Jumat, 18 Maret 2011

Ironi Kehidupan Perajin Wayang Kulit



Menjadikan wayang sebagai salah satu budaya yang dicatat sebagai warisan dunia oleh Unsesco tentu tidak semudah membalikkan tangan. Dengan menjadi world herritage, sudah barang tentu menjadi kebanggaan bagi Bangsa Indonesia. Tetapi apakah dengan dijadikannya wayang sebagai warisan dunia secara otomatis membuat kesejahteraan bagi orang yang berkecimpung di dalamnya?

“Sepertinya sejak dulu sampai sekarang sama saja. Saya masih tetap di sini. Bengkel pun tak berubah,”ujar Joko Purwanto, 49, warga Jl Supriyadi Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.

Ia adalah salah satu perajin wayang kulit yang tersisa di kawasan Jateng selatan bagian barat. Joko lantas menunjukkan tempatnya bekerja. Bengkel itu hanya berada pada ruangan yang disekat dengan papan tripleks dengan ukuran 2 x 2 meter. Cukup sempit untuk sebuah tempat pembuatan wayang kulit. Rumah perajin itu juga sangat sederhana dengan tembok yang terlihat tua yang berdebu. Maklum, rumah Joko berada di dalam Kompleks Panti Asuhan Darmo Yuwono. Di situlah ia melakukan aktivitasnya sebagai seorang perajin wayang kulit, selain profesinya sebagai pengasuh anak-anak yatim piatu yang menjadi penghuni panti tersebut.

Meski kondisinya pas pasan, bagi Joko, menjadi perajin wayang kulit merupakan kebanggaan tersendiri. “Saya memang sejak kecil telah menyukai meski hasilnya juga biasa-biasa saja. Untuk pembuatan wayang kulit, satu tokoh pewayangan dihargai dalam kisaran Rp100 ribu, namun ada pula Rp400 ribu hingga Rp600 ribu. Semuanya tergantung besar kecilnya tokoh pewayangan. Yang paling mahal adalah gunungan, karena selain ukurannya besar, pembuatannya cukup rumit, sebab ukiran-ukirannya cukup banyak,”ujar Joko.

Kesetiannya sebagai perajin wayang kulit sudah dibuktikan sejak ia menjadi siswa SD. Awalnya, kata Joko, dimulai tatkala ia berusia sekitar 9 tahun. “Tidak seperti sekarang dengan menggunakan bahan dari kulit kerbau, dulu saya pakai kertas. Baru setelah waktu berjalan dan duduk di bangku SMP, saya memulai membuat wayang dengan bahan kulit kerbau,”ujarnya.

Tak mudah

Sudah empat puluh tahun, Joko bergelut menjadi perajin wayang kulit. Meski demikian, pembuatannya tidak bisa sangat cepat, sehari jadi misalnya. Karena pembuatan wayang kulit bukanlah persoalan teknis semata, tetapi merupakan pekerjaan seni. Kesabaran dan ketelitian menjadi hal utama dalam pembuatan wayang kulit.

Pembuatan wayang kulit dimulai dengan membeli kulit kerbau yang telah dihaluskan. Kulit kerbau dengan ukuran sekitar satu meter misalnya, harganya Rp75 ribu. Setelah itu, kulitnya didesain sesuai dengan kebutuhan. Apakah tokoh pewayangan atau gunungan. Pola-pola yang telah dibuat, kemudian mulai diukir sedikit demi sedikit. “Ada perbedaan membuat wayang dengan gunungan. Kalau gunungan, dimulai dari bawah, sedangkan tokoh pewayangan mulai diukir dari atas,”jelasnya.

Pekerjaan mengukir itulah yang cukup menyita waktu dan tenaga, karena rumit sehingga membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Misalnya saja, gunungan. Di dalamnya terdapat sejumlah ukiran berbeda-besa, misalnya ada dua hewan yang diwakili harimau dan banteng. Ada pula penjaga yang disebut dengan bolo upoto dan cingkoro bolo. Tidak ketinggalan bentuk rumah joglo. Langkah terakhir setelah ukir-ukiran terbentuk adalah mengecatnya sesuai dengan warna pakem yang telah ada.

“Kalau untuk gunungan, waktunya cukup panjang sampai dua pekan, sehingga harganya pun cukup mahal mencapai Rp600 ribu. Namun, kalau tokoh pewayangan macam Arjuna waktunya sekitar sepekan dengan harga Rp200 ribu,”ujarnya.

Setiap bulannya, rata-rata mendapat pesanan sekitar empat buah wayang, terkadang lebih. Namun, hasil dari kerajinan wayang itu tidak hanya untuk kepentingan pribadi Joko, karena sebagian untuk membantu operasional Panti Asuhan Darmo Yuwono. “Barangkalai melihat keadaan saya, anak-anak di panti asuhan ini juga enggan belajar membuat wayang. Alasan lainnya adalah rumit. Ternyata memang anak-abak sekarang kurang kesabarannya,”ungkapnya seraya tersenyum.

Lalu bagaimana kalau ada tawaran dari negara lain, misalnya Malaysia supaya bekerja di sana untuk membuat wayang. “Kalau memang pendapatannya bagus, kenapa tidak? “ Ironis memang, tetapi sangat manusiawi. (liliek dharmawan)

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Nomer kontak/ WA p joko purwanto berapa ?

Unknown mengatakan...

Nomer kontak/ WA p joko purwanto berapa ?