Kamis, 14 April 2011

Tradisi Unggah-unggahan Khas Bonokeling





Memasuki kompleks sesepuh kaum Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan

Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) bagai kembali pada zaman Jawa

kuno. Bentuk rumahnya masih seperti Joglo, meski atapnya telah digantikan

seng. Sedangkan dindingnya masih tetap terbuat dari anyaman bambu. Begitu

juga lantainya bukanlah dari keramik, masih tetap tanah.

Ada sejumlah bangunan tua yang sudah kelihatan tidak terlalu kokoh lagi.

Misalnya saja bangunan Pasemuan yang biasanya digunakan sebagai tempat

memuji dengan menembangkan lagu-lagu Jawa. Ada pula Balai Malang yang

biasa digunakan untuk tempat makanan dan minuman pada saat ada ritual

khusus. Ada pula enam bangunan rumah joglo yang digunakan sebagai rumah

dinas juru kunci dan lima rumah untuk bedogol. Bedogol merupakan pembantu

juru kunci atau pemimpin kelompok-kelompok dalam Bonokeling.

Dalam keseharian, masyarakat di tempat itu sama dengan warga kebanyakan.

Terlihat anak-anak yang bermain dengan sepeda dan memakai baju zaman

sekarang. Kontras dengan generasi tua yang masih memakai baju kejawen.

Yang perempuan memakai jarit, sedangkan laki-laki menggunakan baju hitam

dengan penutup kepala atau disebut iket. Kesemuanya menyatu dalam harmoni

indah, meski rumah-rumah yang mereka tinggali terlihat amat sederhana.

Area tersebut merupakan wilayah para tokoh yang masih “trah” atau

keturunan dari Bonokeling. Makam dari Bonokeling tidak jauh dari rumah

dinas juru kunci dan bedogol hanya sekitar 200 meter. Bonokeling bisa

disebut dengan tokoh misterius, karena Bonokeling sebetulnya merupakan

nama alias, bukan nama sesungguhnya. Nama Bonokeling dapat diartikan

sebagai “wadah hitam”. Bono berarti wadah dan keling artinya hitam.

Keturunan dari Bonokeling biasanya memakai pakaian serba hitam, terutama

pada waktu-waktu ritual tertentu. Tidak ada sejarah yang mencatat, kapan

tokoh Bonokeling berkiprah di tempat itu dan kapan meninggalnya.

Juru kunci Makam Bonokeling Kartasari, 75, mengungkapkan bahwa tidak ada

catatan secara persis kapan sebetulnya Bonokeling ada di desanya. Tetapi

dari penuturan para sesepuh sebelumnya, Bonokeling ada jauh sebelum Islam

masuk ke Banyumas. Kartasari mengatakan kalau dia baru menjabat sebagai

juru kunci tiga bulan. Ada lima Bedogol yang membantu. Semua bedogol

rumahnya di sini. “Selain itu ada juga Ketua Adat Bonokeling. Biasanya

ketua adat ini yang berhubungan dengan masyarakat di luar Bonokeling dan

pemerintah. Bahkan, Ketua Adat Bonokeling juga masuk struktur Badan

Perwakilan Desa (BPD) dari unsur adat,”kata Kartasari yang tidak dapat

berbahasa Indonesia.

Sebagai seorang juru kunci, ada sejumlah tugas yang diembannya. Di

antaranya adalah membersihkan makam, biasanya pada hari Kamis. Selain itu,

juru kunci juga memimpin ritual-ritual yang telah terjadwal maupun tidak.

Ritual yang terjadwal di antaranya adalah Unggah-unggahan, Sedekah Bumi,

Kupatan Senin Paing, dan lainnya. Yang tidak terjadwal di antaranya adalah

upacara melebuh.

Unggah-unggahan merupakan ritual paling besar. Karena ritual itu tidak

hanya diikuti oleh kaum Bonokeling dari desa setempat melainkan dari

pesisir Cilacap seperti Maos, Kroya, Adipala, Binangun hingga Nusawungu.

Mereka datang dengan berjalan kaki menuju makam Bonokeling. Biasanya

ritual itu berlangsung selama tiga hari. Intinya adalah berkumpul di Makam

Bonokeling dan makan bersama.

Selain itu, ada juga Sedekah Bumi yang dilaksanakan pada bulan Jawa Apit.

Pada ritual itu, warga khususnya Bonokeling berkumpul untuk mengumpulkan

hasil bumi sebagai ucapan terima kasih kepada Yang Maha Pencipta. Ada lagi

ritual Kupatan Senin Paing. Kalau ritual itu berisi puji-pujian kepada

Penguasa Alam melalui tembang-tembang Jawa. Dalam ritual tersebut

dilengkapi dengan kupat yang berarti Laku Papat, sebuah laku untuk menuju

keselamatan.

Prosesi yang tidak terjadwal adalah Mlebu. Mlebu merupakan prosesi di mana

seseorang yang telah dewasa mau masuk ke dalam Kaum Bonokeling. Biasanya

untuk kaum perempuan usianya menginjak 17 tahun dan laki-laki 12 tahun.

Dalam ritual Mlebu, mereka yang akan masuk harus menguasai pranata

Bonokeling sebagai syaratnya. Jika laki-laki, akan dikukuhkan oleh

Bedogol, sedangkan kalau perempuan dikukuhkan oleh istri Bedogol.

Ketua Adat Bonokeling Sumitro mengatakan bahwa mereka tetap beragama

Islam, namun budaya Bonokeling tetap dipegang teguh. “Misalnya saja,

budaya Unggah-unggahan. Budaya itu sebetulnya merupakan prosesi awal musim

tanam. Tetapi ketika Islam sudah masuk dan waktunya menjelang Ramadan,

prosesi Unggah-unggahan disamakan dengan ritual Sadranan. Sadranan biasa

dilakukan menengok dan membersihkan makam leluhur sebelum masuk bulan

puasa,”jelas Sumitro.

Dijelaskan oleh Sumitro, Bonokeling sampai sekarang memang masih

misterius. Meski demikian, sebetulnya para tetua adat tahu siapa

sebetulnya Bonokeling, namun tidak boleh memberikan keterangan kepada

khalayak. “Ya Bonokeling saja, walaupun itu sebenarnya hanyalah nama

samaran. Ia adalah tokoh yang berasal dari Pasir Luhur. Pasir Luhur

merupakan kadipaten di bawah Kerajaan Padjajaran atau

Galuh-Kawali,”katanya.

Setelah masuknya Islam, berbagai budaya ala Bonokeling tetap dipertahankan

tetapi mengalami akulturasi. Sehingga ada percampuran yang unik antara

tradisi Islam dengan Bonokeling.

Peneliti dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto Ridwan

yang melakukan riset etnografi terhadap kaum Bonokeling mengatakan bahwa

di kalangan kaum Bonokeling terjadi akulturasi budaya antara budaya lokal

dengan Islam. “Ada local wisdom yang sebetulnya sangat erat dan melekat

dalam kaum Bonokeling yakni “guyub rukun” atau persaudarannya. Mereka akan

menjadi anak cucu Bonokeling melalui prosesi “mlebu” yang dilakukan oleh

Bedogol kalau laki-laki dan perempuan dengan istri Bedogol,”jelas Doktor

lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Ridwan mengaku cukup heran karena di saat gempuran budaya globalisasi

seperti sekarang masih ada yang memegang teguh pranata dan budaya lokal

yang mereka miliki. “Kuncinya adalah kekerabatan yang begitu kuat di

ataranya kaum Bonokeling. Padahal, mereka sangat terbuka, baik dalam

komunikasi maupun secara geografis. Apalagi, kaum Bonokeling juga tersebar

di Banyumas dan Cilacap. Saya masih yakin sampai 10 tahun mendatang, kaum

Bonokeling masih tetap eksis. Meski sebenarnya tetap ada

perubahan-perubahan yang terjadi apalagi kalau anak-anak keturunan “trah”

Bonokeling tersebut bersekolah atau merantau ke luar daerah,”kata Ridwan

yang juga dosen STAIN Purwokerto tersebut.

Bagi Ridwan, local wisdom yang masih dimiliki oleh kaum Bonokeling harus

mendapat perhatian dari pemerintah daerah khusus budaya yang mereka

miliki. Meski sebetulnya masih ada persoalan dalam perspektif teologis

Islam. (liliek dharmawan)

Tidak ada komentar: