Kamis, 28 April 2011

Rintik Air tanpa Hujan di Green Canyon







SEBELUM menginjakkan kaki di Green Canyon, tempat wisata air di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat (Jabar), seorang wisatawan asal Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), Jarot Sarwo Sembodo, 27, sempat ragu-ragu.

Apakah pada musim penghujan seperti sekarang, air di Sungai Cijulang masih tetap hijau. “Jangan-jangan sampai ke sana namanya bukan lagi Green Canyon, mungkin sudah Brown Canyon atau mungkin malah Black Canyon. Karena ini kan musim penghujan, biasanya airnya berubah warna menjadi coklat atau menghitam akibat banyaknya lumpur yang terbawa arus sungai,”ujarnya.

Senyumnya sontak mengembang, tatkala warna air di Sungai Cijulang tidak berubah. Warnanya tetap menghijau, sama seperti saat musim kemarau. “Wah, jadi tidak rugi saya ke sini. Karena dulu sewaktu beberapa tahun silam saya ke sini, warna airnya juga sama, hijau,”katanya.

Jarak dari Pantai Pangandaran dengan Green Canyon atau biasa disebut warga lokal sebagai Cukang Taneuh hanya sekitar 31 kilometer, atau dengan perjalanan darat ditempuh dalam waktu sekitar 30 hingga 45 menit. Sesampai di dermaga tempat perahu-perahu compreng mangkal, para pengunjung ke tempat itu bisa menyewanya dengan harga Rp75 ribu untuk lima orang penumpang.

Petualangan dengan perahu dimulai. Awal perjalanan memang hanya basa saja, seperti sungai lain. Hanya memang, warna airnya yang tidak berubah pada musim penghujan menjadi salah satu kekhasan tersendiri Green Canyon. Setelah berjalan kurang lebih satu kilometer, mulai nampak di kanan kiri sungai tidak lagi dibatasi oleh tanah, melainkan batu-batu besar seperti tebing. Batu-batu hitam tersebut menjadi salah satu pemandangan eksotik, apalagi di sela-sela batu muncul tanaman yang membuat wilayah sekitarnya sejuk.

Melewati Sungai Cijulang sebetulnya tidak terlalu memacu adrenalin, karena sungainya cukup tenang. Hingga sekitar 15 menit perjalanan, adrenalin agak terasa naik. Karena perah memasuki sebuah gua yang relatif besar, sementara meski hujan tidak turun, tetapi air dari atap guna menetes seperti hujan rintik-rintik. Di tempat itulah, suasana sungguh mempesona.

Para pengunjung di tempat itu dapat menikmati keindahan guna alam yang masih perawan. Stalaktit dan stalakmitnya begitu eksotik. Bahkan, udaranya di sekityar guna tersebut juga dingin.

Di situlah hulu Sungai Cijulang yang menawan. Hanya saja, di hulu tersebut banyaknya perahu yang disewa oleh pengunjung membuat kemacetan. Perahu-perahu saling berebutan mengantarkan tamunya agar dapat meniti batu besar yang ada di tempat tersebut. Tak mengherankan, kalau antarpemilik perahu saling meminta pengertian supaya tidak tabrakan.

Bagi yang ingin turun meniti batu besar yang berada di hulu sungai harus berjalan di antara perahu yang parkir di tempat itu. Suasanya benar-benar nyaman, seperti berada d dunia lain. Suara air dan susana alam di tempat itu benar-benar menakjubkan. Pengunjung bisa merasakan dinginnya air baik yang berada di sungai atau sengaja menanti tetesan air dari gua yang menitikkan air ke bawah.

Menurut Ujang, 37, penarik perahu di tempat itu, bagi yang suka berpetualang, biasa menyusuri terowongan dan sampai ke air terjun Palatar. “Biasanya yang sampai ke sana adalah anak-anak muda atau pecinta alam. Mereka menyusuri guna dan berenang di air tejun Palatar. Namun, kalau keluarga, lebih baik di sini saja, karena risikonya juga besar. Apalagi yang tidak bisa berenang. Namun petugas di sini juga siap melakukan
pendampingan,”katanya.

Ada dua versi mengapa tempat tersebut dinamakan Green Canyon. Dari sejumlah petugas di lokasi itu menyebutkan jika Green Canyon pada awalnya dikenalkan oleh seorang turis asal Amerika Serikat bernama Bill John. Dia menamakan Green Canyon karena wisata air Sungai Cijulang sama persis dengan Green Canal di Colorado, AS. Tetapi ada pula yang menyebutkan kalau Green Canyon merupakan istilah yang dinamai oleh wisatawan asal Prancis dan Swiss. Tetapi tidak terlalu penting dari mana awal istilah itu muncul. Yang pasti Green Canyon memang menjadi salah satu tempat yang memiliki sensasi tersendiri. (liliek dharmawan)

Tidak ada komentar: