Rabu, 20 April 2011

Kehebohan Baturraden Bukan Jabal Magnet, Hanya Ilusi Optik




Tiga hari terakhir, jalanan sepi yang menghubungkan antara kawasan wisata Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah menuju Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, mendadak ramai. Jalanan itu biasanya hanya untuk warga yang keluar dari desa atau penduduk yang mencari rumput. Tetapi, jalanan beraspal dengan lebar 2 meter tersebut mengalami kemacetan.

Ratusan sepeda motor berjajar di jalan setempat. Selain itu, ada juga sejumlah kendaraan roda empat yang terparkir. Ada beberapa warga yang kemudian mencoba untuk mematikan motor di tengah jalan. Ternyata tiba-tiba motornya berjalan. “Ya, saya kaget, tiba-tiba saja, motor bisa jalan sendiri. Padahal kan jalan ini terlihat menurun, tetapi motor saya malah tertarik ke belakang. Ini yang aneh,”ujar Yamin, 21, seorang pemuda warga Desa Karangmangu, Baturraden.

Warga memang kemudian menyimpulkan kalau ada medan magnet. Kabar itu memang beredar luas, apalagi setelah televisi menayangkan liputannya. “Saya datang ke sini penasaran setelah melihat tayangan televisi. Ternyata ramai sekali di sini. Banyak yang mencoba. Memang motor yang dimatikan tertarik ke belakang. Kalau dilihat dari sini jalannya seakan-akan menurun, namun kok motor bisa tertarik ke belakang, padahal jalannya terlihat menanjak,”jelas Aris, 48, warga Desa Banjarsari Kulon, Sumbang.

Kehebohan memang semakin menjadi, setelah aparat kepolisian mencoba mobil di tempat itu. Apalagi setelah ditayangkan televisi. Warga memang menduga ada semacam medan magnet besar di daerah tersebut. Bahkan, ada yang bilang seperti Jabal Magnet di Kota Madinah, Arab Saudi.

Secara kasat mata, berdasarkan pemantauan Media Indonesia, jalan tersebut sebetulnya tidak terlihat menanjak, tetapi rata. Namun entah mengapa, warga seolah-olah melihat kalau jalan itu naik.

Atas fenomena tersebut, tim ahli dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) datang ke lokasi. Mereka terdiri dari ahli geologi dan fisika untuk membuktikan kehebohan yang telah berjalan berhari-hari tersebut. Peneliti dari jurusan Geologi, Fakultas Teknik dan Sains Muhammad Aziz mendatangi lokasi tersebut. Sebagai seorang yang berfikir ilmiah, ia memang tidak langsung heran dengan fenomena yang terjadi. Bahkan warga yang mendatangi tempat itu sempat “memprovokasi” kalau di wilayah tersebut memang ada medan magnet yang besar, sehingga motor dan mobil bisa tertarik.

Aziz kemudian mengeluarkan kompas. Alat sederhana itu pasti bakal bergerak kalau berdekatan dengan medan magnet besar. Begitu ia mengeluarkan kompas, jarumnya tidak ada pergerakan sama sekali, bahkan cenderung stabil. “Kalau ada medan magnetnya, maka jarum pada kompas ini pasti bakal bergerak. Ternyata ini kan tidak,”ujarnya.

Ia kemudian berjalan sepanjang 30 meter yang merupakan areal kehebohan tersebut. Sama saja, kompas sama sekali tidak ada gerakan. “Dengan demikian, kami memastikan kalau sebetulnya sama sekali tidak ada daya magnet yang besar di areal ini,”jelas Aziz.

Meski demikian, Aziz butuh pembuktian lainnya. Jalan yang dikira menanjak tersebut diukur ketinggiannya dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Dari pengukuran ketinggian, diperoleh kalau ketinggiannya mencapai 717 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kemudian, dia bergerak ke arah jalan yang dikira lebih tinggi atau menanjak, ternyata di tempat itu ketinggiannya sama yakni 717 meter. “Jadi memang jalan ini sebetulnya tidak menanjak. Ketinggian tempat ini sama atau rata. Ini berdasarkan pengukuran alat GPS,”tegasnya.

Dijelaskannya, bahwa apa yang menjadi kehebohan warga ternyata tidak terbukti. Tidak ada medan magnet dan motor atau mobil memang tidak bergerak ke daerah yang lebih tinggi. “Fenomena ini hanya ilusi optik saja. Sama saja ketika ada cahaya yang masuk ke air. Kalau dilihat oleh mata, seolah-olah cahaya tersebut membelok, padahal sebetulnya lurus. Sama seperti yang terjadi di sini. Jalanan benar-benar rata, hanya kalau dilihat seolah-olah menanjak,”ungkapnya.

Lalu mengapa kalau jalanan datar, motor atau mobil bisa bergerak sendiri? Ahli Fisika dari Unsoed, Sukmaji, mengatakan bahwa meski datar, tetapi jalan setempat miring sekitar 2 derajat. Dengan kemiringan tersebut, maka motor dan mobil bisa bergerak ke belakang. Hal itu murni karena kemiringan bukan medan magnet. Sederhana saja, kalau itu medan magnet, tentu bukan hanya mobil dan motor yang bergerak, tetapi juga benda-benda lainnya yang mengandung logam. “Jadi masyakarat tidak perlu heboh, karena ini merupakan fenomena biasa. Tidak ada yang aneh sama sekali,”tandasnya.


Fenomena tersebut nyaris sama dengan yang terjadi di Gunung Kelud, Jawa Timur. Bukan medan magnet penyebabnya, hanya ilusi optik saja. (liliek dharmawan)


simak juga di alamat ini:

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2011/04/20/ArticleHtmls/20_04_2011_006_027.shtml?Mode=0

Tidak ada komentar: