Jumat, 01 Maret 2013

Selamatkan Lingkungan, Menuai Energi Terbarukan, Amankan Stok Pangan




HUTAN Krangean bagi Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) sebuah daerah yang keramat. Sudah ratusan tahun silam, masyarakat di tempat itu benar-benar menjaga hutan. Jangankan menebang, untuk masuk ke hutan setempat harus seizin dari tetua adat dusun tersebut.

Secara kultural, mengeramatkan daerah itu bukanlah sesuatu hal yang menyimpang, justru sebaliknya menjadi kearifan lokal yang dilestarikan sejak ratusan silam. Karena memang Krangean merupakan bagian tak terpisahkan bagi mereka. Krangean merupakan sumber mata air yang tak pernah habis, bahkan saat puncak kemarau. Airnya bening mengalir dan menyejukkan daerah itu.

Di kawasan hutan Krangean, ada lima titik mata air alami. Tiga di antaranya dinamakan Mengaji, satu mata air diberi nama Sangkalputung dan yang terbesar adalah Krangean. Kelima mata air itu tidak  hanya memberikan pasokan untuk kebutuhan air minum di rumah-rumah warga. Aliran airnya juga dimanfaatkan warga untuk mengairi sawah. Bahkan, digunakan sebagai energi listrik melalui pembangkit mikorhidro.

Sumber mata air itu debitnya tetap tinggi karena lingkungan sekitarnya yang merupakan hutan lindung tetap tepelihara dengan baik. Pepohonan besar seperti jenis Ingas dan Taon dengan keliling 2-4 meter tetap dijaga supaya tidak ditebang oleh penduduk lokal maupun warga di luar dusun setempat. “Masyarakat di sini memang mengeramatkan daerah Krangean. Jangankan menebang pohon, untuk masuk ke daerah sumber mata air itu saja harus meminta izin,”jelas tetua masyarakat setempat Ali Sahudin.

Masyarakat setempat bersepakat, kalau keberadaan hutan Krangean harus terus dipelihara. Pemeliharaannya sederhana. Hanya menjaga agar hutan tetap lestari, tidak ada penebangan. Bahkan, masyarakat setempat kalau mencari kayu bakar tidak akan berani sampai ke daerah “keramat” tersebut. Mereka memilih untuk mencari kayu bakar di lokasi lainnya.

“Masyarakat sadar, kalau hutan rusak, maka segalanya bakal hancur. Hutan yang rusak, dipastikan akan membuat mata air jadi mengering. Jika mata air mengering, jelas masyarakat bakal kesulitan air bersih. Selain itu, dipastikan juga listrik tidak akan menyala. Sawah-sawah juga tidak dapat menghasilkan padi. Kami tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi,”katanya.

Jauh sebelum pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) tahun 2010 lalu dengan kapasitas 25 kilowatt (KW), mereka sebetulnya telah mampu memanfaatkan aliran Sungai Mengaji untuk menggerakan turbin. “Puluhan tahun lalu, kami menikmati listrtik dari turbin-turbin kayu yang dibuat masyarakat. Bahkan, sampai sekarang, masih ada warga yang memanfaatkannya untuk menambah pasokan listrik sendiri,”jelas Kepala Dusun Sawahan Warsito.

Ide itu muncul ketika itu, karena jaringan listrik PLN tidak sampai ke wilayah setempat. Sebab, daerah itu memang agak sulit lokasinya, karena berada di pegunungan dengan jalanan menanjak. Jadi di sepanjang aliran Sungai Mengaji, berjajar turbin-turbin dari kayu. Saat sekarang memang tidak sebanyak dulu, setelah PLTMH yang juga memanfaatkan aliran Sungai Mengaji dibangun oleh pemerintah.

Warga setempat juga tidak egois, karena masyarakat setempat berusaha agar aliran air dari dusun setempat turun ke bawah agar banyak daerah yang teraliri. Sebab, aliran air dari sungai di desa tersebut dimanfaatkan oleh petani di wilayah bawah Dusun Pesawahan. Ada ratusan bahkan ribuan hektare (ha) sawah yang menggantungkan air dari Sungai Mengaji. “Karena itulah, masyarakat di sini juga berusaha untuk terus mengalirkan air ke wilayah bawah. Jangan sampai petani mengeluh karena air tidak ada,”jelas Warsito.

Kearifan lokal yang tetap dipertahankan oleh warga Dusun Pesawahan sesungguhnya sangat penting bagi penyelamatan lingkungan. Meski mereka hanya berpatokan pada kearifan lokal yang dilestarikan turun temurun. Kegiatan menjaga hutan di wilayah itu menjadi bagian tak terpisahkan dari gerakan untuk mengurangi pemanasan global. Hutan tropis yang bagus tentu akan menjadi benteng yang kokoh penyerap karbon.
Di sisi lain, dengan menyelamatkan lingkungan, warga setempat juga menuai energi terbarukan yang digadang-gadang oleh masyarakat dunia sebagai energi masa depan. Sebab, energi terbarukan dengan memanfaatkan aliran Sungai Mengaji tidak menghasilkan produk limbah pemanasan global. Sebuah aksi tersembunyi yang barangkali masyarakat setempat juga tidak menyadari.

Inilah gerakan-gerakan yang bisa menjadi inspirasi masyarakat dunia, hanya dengan mempertahankan kearifan lokal. Mereka telah membangun masa depan dunia, dengan aksi lokal sederhana. Langkah-langlah semacam ini, juga diinisiasi oleh lembaga-lembaga non pemerintah seperti halnya Oxfam. Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.

Langkah Oxfam seiring dengan upaya penyelamatan lingkungan yang dilaksanakan oleh warga Pesawahan. Kearifan mereka tidak saja mampu menghasilkan energi terbarukan yang secara otomatis mampu menekan konsumsi energi fosil yang kian menipis. Dari lingkungan yang masih dipertahankan tersebut, mereka juga tetap bisa mencukupi kebutuhan pangan secara mandiri.

Sebab, dengan mengalirnya air sepanjang tahun, warga setempat tidak pernah mengalami kekurangan air pada masa kemarau, sehingga setiap saat ada saja padi yang dipanen. Apalagi, mereka juga memiliki kebiasaan untuk menyimpan padi untuk mencukupi kebutuhan sendiri.

Warga Pesawahan terus berusaha bertahan, menyelamatkan lingkungan, menuai energi terbarukan dan stok pangan tetap aman. (liliek dharmawan)


Tidak ada komentar: