Usianya telah menginjak 48 tahun. Tetapi langkah kakinya
yang hanya beralaskan sandal jepit masih cepat melewati jalanan tanah yang
becek dengan lebar 1 meter. Di kanan kiri jalan merupakan air payau yang
ditumbuhi hutan mangrove. Ia menjinjing tas berisi alat tulis-menulis. Tak
lupa, perempuan itu juga membawa payung kalau sewaktu-waktu hujan. Sebab,
perjalanannya cukup jauh, sekitar 7 kilometer (km) dari rumahnya menuju sebuah
SD filial di Dusun Pesuruhan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut,
Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) yang masih menumpang di rumah penduduk.

Sebagai sebuah daerah terpencil yang dikelilingi laguna dan
laut, memang hanya ada dua moda transportasi, motor dan perahu compreng. Wartati
tidak memilih keduanya. Jalan kaki menjadi pilihannya. Pertimbangannya
sederhana, jika naik perahu compreng, maka honor inti bulannya hanya cukup
untuk 10 kali ke sekolah.Perahu compreng dipilih saat hujan deras turun. “Kalau
hujan deras pada pagi hari atau siang, jalan kaki terlalu berisiko. Kondisi jalan terlalu licin apalagi kalau
datang rob ada beberapa titik jalanan yang terendam air,”ujarnya.
Wartati memulai kiprahnya di Kampung Laut berawal setelah
lulus dari Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA). Dia bersama suaminya menetap
di Ujung Alang tahun 1984. Waktu itu, suaminya menjadi petugas penyuluh
lapangan (PPL) pertanian. Pada awal menetap di tempat tersebut, ia kaget karena
meski berada di Kabupaten Cilacap, tetapi Kampung Laut daerahnya terpencil dan
sulit dijangkau. Bisa dimaklumi sebab wilayah setempat merupakan daratan
bentukan dari hasil sedimentasi di Segara Anakan. Kini, desa tersebut telah
menyatu dengan Pulau Nusakambangan. Untuk sampai ke Kampung Laut kalau dari
Cilacap, satu-satunya akses hanyalah dengan menggunakan perahu compreng dengan
waktu tempuh 2 jam perjalanan.
Meski di lokasi terpencil, mau tidak mau harus betah, karena
suaminya ditugaskan di tempat itu, mau tidak mau ia harus tetap bertahan dan
berusaha betah. Tahun demi tahun berganti, tidak terasa 5 tahun Wartati telah
tinggal di kawasan itu. Anaknya juga mulai besar dan seharusnya bersekolah di
Taman Kanak-kanak (TK). Ironisnya, di sekitar itu tidak ada sekolahan. Kalau
akan dititipkan kepada orang tuanya atau sekolah di Cilacap rasanya tidak
mungkin. Terlalu repot.
Sebagai jalan keluarnya agar anaknya bersama anak-anak lain
yang sebaya bisa bersekolah, maka dia memberanikan diri untuk terjun dalam
dunia pendidikan. Apalagi ketika itu, di desa setempat lulusan tingkat SMA hanya dirinya dan
suaminya. Tekadnya membuka TK dan menjadi pengajar anak-anak direspons oleh
Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial (YBKS) Surakarta. Yayasan tersebut
memberikan beasiswa untuk mengikuti kursus pengajaran tingkat TK.
Berbekal pengetahuan itulah, dia kemudian membuka TK di Desa
Ujung Alang. Siswanya adalah anak-anak usia sekitar 5-6 tahun di desa setempat.
Dia juga harus merelakan sebagian rumahnya untuk menjadi TK. Ternyata,
inisiatif yang dilakukan Wartati mendapat sambutan hangat dari masyarakat
setempat. Atas kepercayaan itu, memotivasinya untuk serius mengajar. Bahkan, setelah berjalan dan siswa harus
melanjutkan ke SD, Wartati diminta warga agar membuka SD. “Saya kemudian
konsultasi dengan Dinas Pendidikan Cilacap, apakah memungkinkan membuat SD
rintisan untuk daerah ini, ternyata jawabannya membuat saya lega. Dinas
mengizinkan,”kata perempuan yang lahir 16 Mei tersebut.
Lokasi sekolah tetap rumahnya, jadi yang dulunya TK kini berubah
menjadi SD. Sarana belajar seperti mendapat bantuan dari YBKS. Siswanya cukup
banyak, ada 48 anak. Awalnya, para siswa mengikuti pelajaran dengan duduk
lesehan. “Beruntung kemudian, Pemkab Cilacap mulai membangun sekolah tahun 2001
di Ujung Alang tidak jauh dari rumah saya,”kisahnya.
Selama empat tahun, ia mengajar sendirian. Caranya, waktunya
yang dibedakan. Untuk kelas 1 dan 2 jadwal pelajarannya jam 08.00 hingga jam
10.00 WIB, kemudian disusul kelas 3 dimulai jam 10.00 hingga jam 12.30 WIB.
“Seluruh mata pelajaran dan seluruh siswa, saya yang mengajar. Apa boleh buat,
karena memang tidak ada guru lainnya,”katanya.
Tahun 2005/2006, SD Negeri 01 Ujung Alang tempat ia mengajar
dipindahkan ke Dusun Pesuruhan yang lokasinya sekitar 7 km dari rumahnya.
Sebab, di daerah setempat banyak anak-anak yang akan bersekolah, tetapi harus
ke Motehan atau ke Lempong Pucung. “Sedangkan gedung SD yang dekat dengan rumah
saya dijadikan SD Negeri 03 Ujung Alang. Karena saya memang sudah telanjur
mengajar di SD 01, maka ketika pindah, saya juga ikut pindah mengajarnya. Mulailah
saya berjalan kaki kalau ke sekolah. Lebih baik saya yang jalan kaki daripada
siswa yang harus jalan dari Pesuruhan hingga sekarang,”ujarnya.
Sebagai SD filial, SD Negeri 01 Ujung Alang hingga sekarang
menumpang di rumah penduduk yang berukuran sekitar 5 x 10 meter. Karena gedung
sekolah belum dibangun. Di sekolah setempat, kini hanya ada dua kelas yakni
kelas 1 dan 2 dengan pengajar dua orang. Kondisi serba terbatas tidak
menyurutkan siswa tetap untuk bersekolah. Motivasi siswa itulah yang juga memompa
semangat bagi Wartati untuk mengabdikan dirinya sebagai guru sekolah. Walaupun hingga kini statusnya tetap sama.
Sebagai guru honorer dan non sertifikasi.
Honor Pas pasan
Wartati sadar kalau pendidikannya menjadi salah satu
ganjalan untuk menjangkau karir sebagai guru. Misalnya diangkat menjadi PNS
atau mendapat tunjangan sertifikasi. Tetapi kecintaannya pada dunia pendidikan
membuat angan-angan muluk dibuangnya jauh-jauh.

Bagi Wartati, honor pas pasan tidak menjadi masalah, meski
dia menjadi perintis pendidikan di Lempong Pucung. Bagi Wartati keterpanggilan
mencerdaskan anak-anak di daerah terpencil menjadi tujuan utamanya. “Anak-anak
di sini juga berhak mendapat pengajaran agar tidak ketinggalan dengan anak-anak
yang ada di kota atau wilayah yang gampang dijangkau,”kata ibu dua anak
tersebut.
Konsistensi dalam dunia pendidikan juga tampak pada kerelaannya
menjadikan rumah pribadinya untuk tempat sekolah dari dulu hingga sekarang.
“Saat ini, rumah saya digunakan tempat pendidikan anak usia dini (PAUD) bagi
anak-anak di dusun ini. Makanya, di depan rumah ada tempat bermain. Meski
sangat minim fasilitas, tetapi setidaknya anak-anak balita mulai diberi
pendidikan. Pokoknya, jangan sampai mereka tidak mengenyam pendidikan, karena
dengan bekal pendidikan, masa depan mereka bakal lebih baik,”tandasnya.(liliek dharmawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar